Dedaunan kering angsana berguguran ditiup angin. Mentari pagi yang baru memulai perjalanannya tak sanggup mengusir dinginnya udara Atambua yang menjalari tubuh kami. Setelah sarapan pagi, dengan tubuh yang setengah menggigil kami -53 fratres- berkumpul didepan ruang tamu Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian untuk menanti kedatangan Tim Domus Cordis Jakarta karena perjalanan kami harus dimulai. Jumat, 10 september 2010 adalah hari yang telah ditentukan bagi kami untuk mengikuti pengolahan diri tahap II dibimbing oleh RD. Yohanes Laka, Pembina TOR dan Kelompok Domus Cordis Jakarta di Paroki St.Petrus Lahurus. Kegiatan ini telah lama kami nanti-nantikan. Selain sebagai kesempatan untuk bergaul dengan umat, namun kegiatan ini juga memberi bekal bagi perjalanan kami. Sehingga ketika mereka tiba di rumah kami, kami segera membereskan segala perlengkapan yang kami perlukan ke atas truk sembari bersalaman-salaman dengan ke-16 orang muda katholik (OMK) asal Jakarta itu. Udara yang dingin tak sanggup lagi mendera tubuh kami karena hangatnya persaudaraan telah tercipta di antara kami. Setelah itu, masing-masing rombongan masuk kemobil dan berarak menuju Lahurus di lepas lambaian dedaunan kering angsana yang berguguran ditiup angin.
Antara jalan yang berlubang dan langit yang terang, mobil kami melaju. Matahari berleha-leha di angkasa sambil melambaikan panas pagi dan cahayanya. Meskipun berdesak-desakan dan kegerahan menyelimuti kami, namun tawa riang dan nyanyian tak hilang dari bibir kami. Kami tahu bahwa Tuhan bersama kami. Sebab kami telah meminta perlindunganNya dalam Perayaan Ekaristi yang di pimpin oleh RD. Sipri Tes Mau, Pembina di Seminari Tinggi TOR LO’O Damian setelah kami mendaraskan mazmur dalam ibadat pagi (Laudes). Sedangkan Tim Domus Cordis tak pernah sedikitpun melepas momen indah yang harus mereka abadikan. Karena medan yang cukup menantang, beberapa mobil yang kami tumpangi tertinggal jauh di belakang rombongan yang terdahulu. Sehingga kami harus menunggu mereka di sebuah tanjakan karena jalur ini harus kami tempuh bersama-sama. Perjalanan ini terasa sangat meletihkan namun tugas yang berat masih menunggu kami semua di Lahurus.
Dihadapan kami Gunung Lakaan berdiri dengan kokoh dan lambaian pepohonan yang menghiasinya serupa menyambut kedatangan kami, namun kami selalu luput dari gapaian. Puncak Lakaan yang terlihat pertanda bahwa Paroki Lahurus semakin dekat. Jalan yang berlubang tak menyurutkan niat kami untuk cepat sampai. Tak terbersit dalam pikiran kami untuk menyesali medan yang tak bersahabat ini, sebab kami tahu jalan yang kami tempuh tak sebanding dengan jalan salib Yesus ke puncak Kalvari. Jika tempat Yesus disalibkan adalah Kalvari, maka perjalanan kami adalah menuju Lakaan.
Ketika mentari telah menempuh setengah perjalanannya, kami memasuki pusat Paroki Lahurus. Udara dingin khas dataran tinggi membelai tubuh kami. Pepohonan mahoni menambah kesejukan tempat itu. Kami tak menyangka bahwa Paroki Lahurus yang menyumbangkan air bagi wilayah Atambua ini, telah berumur 124 tahun, sama seperti kami tak menyangka bahwa kami telah berada di daerah yang menjadi tempat bermain semasa kecil seorang uskup misionaris yang telah dibeatifikasi, Mgr. Gabriel Manek, svd. Namun kami tahu, ini adalah Paroki St. Petrus Lahurus, ketika terlihat patung St. Petrus seukuran manusia dewasa memegang kunci Kerajaan Surga, berdiri di depan gereja. Semua keletihan kami terbayar lunas. Kami disambut meriah oleh pastor paroki, RD. Emanuel Usboko dan pastor pembantu, RD. Kristo Oki, serta semua umat setempat. RD. Yance Laka selaku Pembina TOR yang menggagas kegiatan ini dan Kak Riko Ariefano sebagai ketua Tim Domus Cordis didaulat untuk menerima selendang sebagai tanda kami diterima di sana. Setelah hasehawaka (tutur adat) oleh tua adat, Tarian Likurai mengantar kami ke rumah pastoran. Kami beristirahat sejenak sambil disuguhi makanan ringan. Sehabis perkenalan dan sambutan-sambutan, kami –para frater dan tim Domus Cordis- diterima di rumah-rumah umat sesuai dengan pembagian. Setiap nama kami dipanggil langsung disusul oleh nama keluarga angkat di mana kami akan tinggal. Mereka menerima kami dengan sukacita, sebab dalam hati kami berisi tangki cinta yang membuat kami mampu membagikan kasih berpadu dengan kegembiraan hati umat yang menyambut kami sehingga kisah kasih akan terjalin dalam pertemuan kami di sini. Meminjam ungkapan ketua DPP dalam sambutannya, ’ bertemu menjalin kasih’. Kami yakin kami akan betah tinggal di sini selama tiga hari atau mungkin lebih.
TEOLOGI TUBUH/ THEOLOGY OF THE BODY
Pukul 14.00, kami berkumpul kembali di aula paroki. Setelah beristirahat sejenak di rumah keluarga angkat, kami harus bergegas ke paroki. Kegiatan Destination Confirmed dalam proses pengolahan diri ini akan segera dimulai. Kelompok Domus Cordis Jakartalah yang berkenan membimbing kami di akhir pekan ini. Destination Confirmed ini diawali dengan sesi pertama oleh Kakak Yurika Agustina, salah seorang pembicara dari Domus Cordis yang kaya akan pengalaman pelayanan, namun sebelum itu, kami diajak untuk bermain dan bernyanyi bersama. Selain untuk mengusir rasa kantuk dan capek, tetapi juga untuk mencairkan kebekuan antara kami.
Kak Rika membawakan materi tentang Original Man(manusia asali). Ia mengajak kami untuk mesuk ke tiga pengalaman dasar manusia pada saat penciptaan, yakni kesendirian asali (Original Solitude), kebersatuan asali (Original Unity), dan ketelanjangan asali (Original Nakedness). Ketiga hal mendasar ini, telah diserukan pula oleh Paus Yohanes Paulus II dalam rangkaian ceramahnya tentang Teologi Tubuh (Theology Of The Body). Pengalaman asali ini menghantar kami untuk mengenal arti nuptial tubuh; pemberian tubuh manusia yang total,bebas, setia dan berbuah kepada orang lain dalam perkawinan. Namun dalam sesi Historical Man, ia menambahkan bahwa tubuh manusia kehilangan arti nuptial itu ketika manusia jatuh pertama kali ke dalam dosa.
Setelah kami merefleksikan pengalaman asali ini secara pribadi, sesi berikutnya dalam pengolahan diri kami lanjutkan dengan bimbingan kak riko ariefano. Setelah sesi original man dan historical man, maka topic yang disediakan kali ini adalan escatological man dan wawasan selibat. Lalu kammi pun mmbentuk kelompok-kelompok sharing yang dikoordinir oleh tim domus cordis di masing-masing kelompok untuk saling membagikan pengalaman hidup.ada gelak tawa dan suasana serius dalam sharing kami. Di kelompok ini kami dapat saling terbuka untuk mengungkapkan pergumulan dalam hati kami. Kamipun dapat saling menceritakan perngalaman yang tak hanya menjaadi guru bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.
Hari telah telah menjelang malam dan matahari telah terbenam, namun keingintahuan kami tak hilang bersama matahari. Setelah santap malam di rumah keluarag angkat, kegiatan hari pertama ditutup dengan Tanya jawab di antara kami dan pembicara hari ini.karena hari yang telah larut maka beberapa dari kami harus rela menunda pertanyaannya dijawab esok hari. Hari pertama kami di lahurus pun berakhir.
MARRIAGE, FRUITFULL, ADDICTION dan TOWARDS FREEDOM
Matahari menyinari kami dengan cahaya pagi. Mata air di belakang rumah pastoran masih terus mengalir memenuhi dahaga penduduk Atambua. Bunyi dedaunan yang berguguran di atas loteng turut menyertai kami dalam pengolahan diri di hari ke dua. Pukul 08.00, kami memulainya di damping oleh Kak Riko. Jika kemarin telah digambarkan tetang wawasan hidup selibat, maka kali ini ia menjelaskan tentang perkawinan (Marriage). Hal ini membuat kami tertarik karena ke dua pilihan itu-hidup selibat dan perkawinan- memiliki tantangan dan resikonya masing-masing. Sehingga kami harus pandai memberikan keputusan yang tepat bagi perjalanan hidup kami. Meskipun pilihan itu berbeda-beda, namun bertujuan sama yaitu untuk memuliakan Allah. Namun yang dibutuhkan adalah sejauh mana kami dengan sukarela memutuskan sekaligus bergembira atas pilihan kami itu nantinya.
Suasana puncak yang asri dengan sari kehidupannya tersendiri semakin membuat kami beriman dan bersehati untukmenjalin kasih. Namun yang paling menyejukan hati kami adalah selalu ada kegembiraan dalam nyanyian dan doa sebelum memulai setiap sesi pengolahan diri ini. Kami tahu kami tak berarti dihadapan Tuhan, maka kami mohonkan kehadiran-Nya diantara kami untuk membuat diri kami berarti dan layak di hadapanNya. Kamipun bergembira dan siap untuk mengikuti Destination Confirmed di sesi kedua hari itu dengan topic pembuahan (Fruitfull) oleh Kak Lia Ariefano. Ia menjelaskan lebih lanjut tentang perkawinan sekaligus arti nupsial tubuh dan bagaimana kehadiran seseorang adalah karya besar Tuhan yang tak tergantikan. Setiap orang berasal dari benih terbaik yang direncanakan Tuhan, maka setiap orang adalah istimewa. Kamipun istimewa.
Pengalaman dan pergumulan dalam seseorang harus dibagikan kepada orang lain agar tidak menimbulkan psikosomatik, maka manusia membutuhkan sesama untuk berbagi. Didalam hati manusia terdapat kesendirian asali yang membuat manusia membutuhkan orang lain dan cinta. Jika tidak , maka dengan tangki cinta yang kosong ia akan mencari dalam dirinya berbagai macam pemenuhan yang mengakibatkan ketergantungan (Addiction). Bentuk kecanduan yang merajalela saat ini adalah kecanduan seksual. Betapa berkuasanya hal itu hingga mampu membuat kita terpenjara dalam diri sendiri dan tak mampu memikirkan hal-hal lain selain mencari cara untuk memenuhi hasrat tersebut. Maka yang dibutuhkan manusia adalah jalan menuju kebebasan (Towards Freedom). Dengan mengakui dan membawa dosa itu kepada Terang, mencari akar permasalahan-karena tangki cinta yang kosong-,dan mengharapkan bantuan orang yang dipercaya dapat membimbing manusia pada jalan kebebasan dari ketergantungan. Hal-hal ini disampaikan oleh pasangan Riko dan Lia Ariefano secara bergantian. Kamipun tertarik untuk merefleksi diri hingga kantuk dan lelah tak sanggup mendera kami.
Mentari telah ditelan kaki langit. Sisa cahaya yang berpendar tak sanggup lagi menerangi bumi kami. Namun, kami memiliki Cahaya Sejati yang takkan hilang dari hati kami. Dalam ekaristi kami mempersembahkan kegembiraan dan harapan kehadapanNya. Perayaan ekaristi yang dipimpin oleh RD.Kristo Oki dimulai tepat ketika kami selesai mendoakan Malaikat Tuhan. Setelah kami dikenyangkan oleh makanan rohani, makanan jasmani menunggu kami. Acara santap malam kali ini menjadi lain karena semua keluarga angkat diwajibkan membawa menu makan malam kami ke paroki untuk disantap bersama. Bukan masalah apa yang kami makan, tetapi bersama siapa kami makan. Kegelapan yang menyelimuti kami tak sanggup menutupi indah dan cerahnya kebersamaan kami. Kamipun dikenyangkan rohani dan jasmani.
Tak seperti kegiatan live in di tahun- tahun sebelumnya yang mengharuskan kami untuk mengadakan malam kreasi seni di malam terakhir bersama umat, kegiatan kami ini selain untuk menjalin kasih dengan umat namun juga untuk mengolah diri. Karena itu kami tak merencanakan malam kreasi. Namun umat masih juga berbondong-bondong datang ke aula paroki untuk menanti malam kreasi seni yang tak direncanakan. Sehingga dengan berat hati, RD.Yance Laka meminta mereka untuk kembali ke rumah masing-masing sebab ia akan merangkum kegiatan kami hari ini. Kepenuhan aktivitas kami dari pagi hingga malam ditutup dengan sharing dalam kelompok setelah beliau merangkum kegiatan kami, memotivasi diri kami dan mengakhiri kebersamaan kami diiringi lagu ‘You Raise Me Up’ dan ‘Kemesraan’. Kegiatan kamipun harus diakhiri sebab keluarga angkat kami telah menjemput kami untuk pulang, karena malam ini adalah malam terakhir bersama mereka. Hari kedua kami di Lahuruspun berakhir.
BERANI BERMIMPI
Sebagai sumber dan puncak, Ekaristi selalu mempersatukan kami. Perayaan ekaristi hari Minggu ini dimulai tepat pukul 08.00. Umat memadati tempat di panti umat, bahkan umat yang lain dengan rendah hati harus menempati tempat di luar gereja. Misa konselebrasi ini dipimpin oleh RD Yance Laka dengan imam-imam konselebran yakni RD Emanuel Usboko, RD Kristo Oki dan seorang imam pribumi yang menjadi misionaris di Brasil. Yang bertanggung jawab sebagai koor sponsor adalah para frater. Dengan segala kesanggupan dan kesederhanaan, kami berusaha memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan bagi umat di Lahurus.
Setelah itu sesi Destination Confirmed yang terakhir menunggu kami dengan topic ‘Vocation and life mission’ oleh Kak Riko. Setiap orang diciptakan Tuhan itu unik. Dengan keunikan pribadi, bakat dan panggilan, manusia harus memiliki misi hidup yang jelas dan juga impian. Bermimpilah karena mimpi itu gratis. Pribadi yang dibutuhkan zaman ini adalah pribadi yang berani memimpikan apa yang belum pernah diimpikan oleh orang lain dan berusaha dengan segala kekuatan dan bakat serta keunikan yang dimiliki untuk mewujudkan impian itu sehingga mimpi itu tak hanya angan-angan hampa, namun menjadi suatu titik yang harus diraih. Kamipun ditantang untuk berani bermimpi dan mengungkapkannya dalam kelompok sharing masing-masing. Meminjam lirik lagu Laskar Pelangi, ‘Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia.berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya.’
BERTEMU MENJALIN KASIH
Perjalanan waktu menghantar kami semua di hari terakhir di Paroki St Petrus Lahurus, Minggu, 12 september 2010. Kegiatan pengolahan diri kami ini berakhir dengan berbagai pergumulan dan mimpi yang siap diwujudkan. Sehabis pamit pada keluarga angkat kami di rumah masing-masing, kami semua diperkenankan untuk mengikuti acara perpisahan di aula paroki. Pertemuan kami boleh berakhir, namun indahnya persahabatan dan kekeluargaan tak akan hilang. Kebersamaan kami semakin dipererat dengan Tarian Tebe. Kami saling bergandengan tangan untuk menari bersama. Setelah itu kamipun saling bersalam-salaman karena waktu yang ditentukan bagi kami untuk berada disini telah berakhir. Kami tak dapat memberikan emas kepada umat di Lahurus sebab mereka telah memiliki intan. Kami hanya sanggup memberikan kasih dari kepenuhan tangki cinta kami dan umat Lahurus memberi kami air mata yang mewakili seluruh kebersamaan kami disana. Para frater dan Tim Domus Cordis meninggalkan Lahurus diiringi dekapan udara dingin dan dedaunan mahoni yang berguguran. Hari ketiga di Lahuruspun berakhir.
DAMIAN, September 2010