Wednesday, September 29, 2010

Malaikat Pemberi Mimpi

Selaksa malaikat turun ke bumi

Merentangkan sayap megah dari Barat ke Timur,

Meninggalkan jejak pada dedaunan mahoni di dada Lakaan

Menjemput kelelehan di tubuh yang tak sanggup bermimpi

Memberikan kompas bagi raga yang terasing



Kami hanyalah jiwa yang terpaku pada raga yang terluka

Maka di retak punggung kami yang canggung

Malaikat itu memberikan kami sayap mimpi

Agar dapat terbang sepertimu, menembus batas-batas ruang dan waktu

Demi impian di tiap kenyataan dan kenangan

Hingga jam pasir mengucur menuju senja

Maka kami tahu, kami mampu terbang dan bermimpi



Ku mampu jumpai Kherubim dalam dirimu yang menjaga mimpi

Serupa menjaga Firdaus dilepas Adam dan Hawa

Ku temui Serafim yang mengidungkan semangat seperti nyanyian kemuliaan Allah di tempat tinggi lewat kata-katamu

Kegembiraanmu bermimpi serupa Maria yang mendapat kabar gembira dari Gabriel

Kudapati Rafael dalam nasehatmu yang menyembuhkan luka seperti kesembuhan mata Tobia

Kuharap mimpi darimu, Malaikat… tak habis hari ini



Sebab bermimpi adalah kepastian,

Mewujudkannya adalah penantian

Maka tak ada raung akibat ruang bagi ketergantungan

Yang menggantungku pada patung-patung di sudut lemari



Terima kasih, karena aku menyayangi tubuhku

Terima kasih, aku mempunyai mimpi



Malaikat pemberi mimpi, aku akan menemuimu dengan mimpi-mimpiku meski di dunia yang tak nyata

Malaikat pemberi mimpi, sebelum terbang kembali ke rumah hatimu, berilah mimpi padaku untuk kunikmati esok hari!



Frater Saddam

Lahurus, 2010